Resensi Novel

Negeri 5 Menara


A.  IDENTITAS BUKU

Judul                       : Negeri 5 Menara
Pengarang               : A. Fuadi
Penerbit                  : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit           : 2009
Jumlah Halaman     : xii + 423 Halaman
Harga Buku            : Rp. 50.000,00-

B.  UNSUR INTRINSIK
1.      Tema :
Tema yang terkandung dalam novel ini adalah pendidikan. Dapat dibuktikan dalam cerita novel menunjukkan sosok tokoh utama dan kawan-kawannya yang sedang mengalami proses belajar dan dapat dilihat melalui sarana dan prasarana pendidikan dalam novel ini memfokuskan cerita pada pondok pesantren (Pondok Madani).
2.      Alur :
Novel ini menggunakan alur maju dan alur mundur (alur campuran). Ceritanya merupakan kilas balik dari ingatan masa lalu tokoh utama akan masa silam ketika menimba ilmu di Pondok Madani hingga kesuksesan yang telah dicapainya pada masa kini. Dapat dibuktikan dengan tahapan-tahapan alur sebagai berikut :
1.      Abstraksi
“ Washington DC, Desember 2003, jam 16.00
Iseng saja, aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan ujung telunjuk kananku.” (Negeri 5 Menara, hal 1)
“Aku tersenyum. Pikiranku langsung terbangun jauh ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku.” (Negeri 5 Menara, hal 4)
Aku tegak di atas aula madrasah negeri setingkat SMP. Sambil mengguncang-guncang telapak tanganku, Pak Sikumbang, Kepala Sekolahku memberi selamat karena ujianku termasuk sepuluh yang tertinggi di Kabupaten Agam.
3.      Latar     :
Latar yang terdapat dalam novel ini, yaitu sebagai berikut.
a.       Latar waktu : Desember 2003, sore hari, pagi hari, malam hari, dan dini
hari.
“… Malam ini untuk pertama kalinya kami sekamar mendapat penugasan menjadi bulis lail atau pasukan ronda malam. Inilah kesempatan yang dinantikan semua murid baru dan murid yang lebih senior.” (Negeri 5 Menara, hal.238)
b.      Latar tempat : Washington DC, Bukittinggi, Pondok Madani, Ponorogo,
Bandung (tempat tinggal Atang), Surabaya (tempat tinggal
Said), dan London.
“Tidak terasa, hampir satu jam kami berkeliling PM.” (Negeri 5 Menara, hal.35)
c.       Latar suasana : Gelisah, mencekam, menyenangkan, menegangkan,
mengharukan, dan sedih.
“Kami mendekat dan merangkul bahunya. Dalam hati aku berjanji akan membantunya sekuat mungkin. Baso mengangguk-angguk terima kasih sambil meniup-niup hidungnya yang tersumbat karena duka.” (Negeri 5 Menara, hal.363)
4.      Tokoh dan Perwatakan :
a.       Pelaku utama
1.   Alif Fikri :  Penurut, pintar, penyabar, tidak konsisten, dan tidak mudah
menyerah.
“Belum pernah sebelumnya aku berbantah-bantahan melawan keinginan Amak sehebat ini. Selama ini aku anak penurut.” (Negeri 5 Menara, hal.11)
2.   Baso : Peduli, rajin, disiplin, pendiam, tertutup, pemalu, berbakti, mau
berbagi ilmu, dan agamis.
“Baso adalah anak paling rajin di antara kami dan paling bersegera kalau disuruh ke masjid.” (Negeri 5 Menara, hal.92)
3.   Raja Lubis : Percaya diri, rajin, mau berbagi ilmu, pantang mnyerah,
dan pemberani.
“Jangan. Kita coba dulu. Aku saja yang maju duluan.” (Negeri 5 Menara, hal.)
4.   Dulmajid : Mandiri, rajin, setia kawan, jujur, dan taat pada aturan.
“Tentu saja saya datang sendiri.” (Negeri 5 Menara, hal.27)
5.   Said : Dewasa, baik, dan kurang percaya diri.
“Aku bersyukur sekali mempunyai teman-teman yang baik dan tersebar di beberapa kota seperti Atang dan Said.” (Negeri 5 Menara, hal.226)
6.   Atang : Humoris, penepat janji, dan baik hati.
“Atang dengan lihai memasukkan berbagai macam guyonan Sunda yang membuat hadirin terpingkal-pingkal.” (Negeri 5 Menara, hal.220)
b.      Pelaku tambahan
1.   Amak : Ramah, rela berkorban, penyayang, teguh pendirian, adil dan
religius.
“Mukanya selalu mengibarkan senyum ke siapa saja.” (Negeri 5 Menara, hal.6)
2.   Ayah : Peduli, dapat dipercaya, dan penyayang.
“Amanat dari jamaah surau kami untuk membeli seekor sapi untuk kurban Idul .Adha minggu depan telah ditunaikan Ayah” (Negeri 5 Menara, hal.91)
3.   Etek Gindo : Baik dan penduli.
“Dia mendoakan aku lulus dengan baik dan memberi sebuah usul.” (Negeri 5 Menara, hal.12)
4.   Pak Etek Muncak : Baik dan berdedikasi tinggi.
“Tapi Pak Etek Muncak tampaknya punya dedikasi tinggi dalam menghibur penumpang. Beberapa kali dia menurunkan kacamata hitamnya sedikit dan mengintip para penumpang dari kaca spion. Begitu dia melihat banyak penumpang yang lesu dan teler, dia memutar kaset.” (Negeri 5 Menara, hal.17)
5.   Kiai Rais : Motivator, baik, humoris dan kebapakan.
“Kerahkan semua kemampuan kalian belajar! Berikan yang terbaik! Baru setelah segala usaha disempurnakan berdoalah dan bertawakallah. Tugas kita hanya sampai usaha dan berdoa, serahkan kepada Tuhan selebihnya, ikhlaskan keputusan kepada-Nya,…” (Negeri 5 Menara, hal.190)
6.   Tyson/Rajab Sujai : Tegas dan sportif.
Laa takhaf ya akhi. Jangan takut. Saya datang bukan karena pelanggaran. Hanya untuk meminta maaf atas tackling kemarin,” katanya menyodorkan telapak tangan. (Negeri 5 Menara, hal.284)
7.   Randai : Pandai, baik, dan menyebalkan.
“Di bawah namanya dia menuliskan “siswa SMA Terbaik di Bukittinggi.” Aku tersenyum kesal, anak ini tetap menyebalkan.” (Negeri 5 Menara, hal.101)
8.   Ustad Salman : Baik, motivator, kreatif, dan periang.
“… selalu mencari jalan kreatif untuk terus memantik api potensi dan semangat kami.” (Negeri 5 Menara, hal.106)
9.   Kak Iskandar : Baik, dan tegas.
“… aturan tidak tertulis yang tidak boleh dilanggar. Pelanggar pasti akan diganjar sesuai kesalahannya. Dan ganjaran paling berat adalah dipulangkan dari PM selama-lamanya,” katanya tegas.” (Negeri 5 Menara, hal.54)
10.     Ustad Torik : Baik, tegas, dan konsisten.
“… Menunggu sampai pagi pun masih bisa. Kalian sudah tahu aturan adalah aturan. Semua yang ikut ke Surabaya saya tunggu di kantor. SEKARANG JUGA.” (Negeri 5 Menara, hal.351)
11.  Ustad Kholid : Ikhlas, baik, dan tegas.
“… salah seorang guru yang paling tegas dan disegani…” (Negeri 5 Menara, hal.233)
5.      Amanat :
Banyak pelajaran yang ingin disampaikan A. Fuadi untuk pembaca cerita novel ini, yaitu memberikan inspirasi kepada pembaca untuk bermimpilah setinggi-tingginya, jangan pernah takut dan jangan mudah berputus asa, karena sesulit apapun mimpi itu untuk kita capai jika dengan niat, usaha, ikhlas, dan tawakal, maka Insya Allah akan dapat tercapai, Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, Karena Allah Maha Mendengar juga Maha Melihat.
Dan ingatlah, dibalik setiap kesuksesan kita terdapat orang tua yang selalu mendukung dan mendoakan anaknya, sehingga sebagai anak kita wajib berbakti kepada mereka. Karena ridho Allah merupakan ridho orang tua.
6.      Sudut Pandang :
Dalam novel “Negeri 5 Menara” ini, A. Fuadi sebagai penulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Hal ini dikarenakan tokoh utama selalu menyebut dirinya dengan kata ganti “aku”.
“Hari ini aku sampai di PM dengan perasaan bimbang. Hari ini pula aku mulai terkesan dengan apa yang ada di PM. Tapi hari ini pula aku kecut, karena aku tidak siap dengan ujian masuk.”
7.      Bahasa yang digunakan :
Penggunaan bahasa dalam novel ini yaitu bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami, walaupun terdapat banyak kalimat dan kosakata dalam bahasa asing yaitu Bahasa Inggris, Bahasa Arab, maupun bahasa daerah Maninjau, namun diberikan pengertian yang disisipkan pada lembarannya dibagian bawah atau langsung diberi arti setelah kalimat tersebut, sehingga pembaca masih dapat memahaminya, walaupun untuk Bahasa Inggris jarang yang disertai dengan artinya.
Bahasa daerah Maninjau : “Nak, ada surat dari Pak Etek Gindo.” (Pak etek adalah adik dari ibu atau bapak”
Bahasa Arab : “Shabahul khair. Selamat pagi. Silahkan masuk!”
Bahasa Inggris : “Would you like something to drink, Sir ?” (Anda mau minum apa, Pak ?)
C.  RINGKASAN CERITA
Alif Fikri yang berasal dari Bayur, kampung kecil di dekat Danau Maninjau Padang, Sumatera Barat, adalah seorang anak yang memiliki cita-cita menjadi Insinyur agar bisa seperti B. J. Habibie. Ia dan sahabatnya, Randai memiliki mimpi yang sama untuk bisa masuk ke SMA lalu melanjutkan studi di ITB. Namun, beberapa hari setelah kelulusan SMP amaknya mengungkapkan bahwa ia tidak setuju kalau anaknya masuk SMA, hal itu membuat Alif merasa mimpinya menjadi insinyur dan ahli ekonomi kandas.
Suatu sore, Alif menerima surat dari pamannya yang sedang belajar di Mesir. Pamannya menyarankan agar ia melanjutkan sekolah di sebuah pondok yang berada di Jawa Timur, yaitu Pondok Madani. Dengan keputusan setengah hati ia memilih mengikuti saran dari pamannya.
Sebuah kalimat bahasa Arab yang didengar Alif dihari pertama di PM mampu mengubah hidup alif. "mantera" sakti yang diberikan Kiai Rais “man jadda wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Karena itu Alif mulai menjalani hari-hari di pondok dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.
Di PM Alif berteman dengan Said dari Surabaya, Raja Lubis dari Medan, Atang dari Bandung, Dulmajid dari Madura, dan Baso dari Sulawesi. Mereka sering sekali berkumpul di bawah menara, sehingga kawan-kawan lain yang berada di PM menggelari mereka Sahibul Menara, orang yang punya menara. Di tempat itu mereka banyak bercerita mengenai impian-impian mereka, membahas pelajaran, merencanakan amal kebaikan, dan tempat yang menurut mereka paling pas untuk mendengarkan kalam Ilahi yang dibacakan oleh para qori, pembaca Al-Qur’an, pilihan PM.
Ternyata kehidupan di PM sangatlah tidak mudah. Banyak hal baru yang harus dijalani Alif, seperti setiap hari mempunyai kegiatan hapalan Al-Qur'an, belajar siang-malam, harus berbicara bahasa Arab dan Inggris, sholat berjamah, dan lain-lain. Belum lagi peraturan ketat yang diterapkan PM pada murid yang apabila melakukan sedikit saja kesalahan dan tidak taat peraturan yang berakhir pada hukuman yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya.
Tetapi, berkat banyaknya pengalaman yang dijadikan motivasi oleh Alif, ia dan kawan-kawannya berhasil menyelesaikan sekolahnya di PM, walaupun tanpa seorang teman, yaitu Baso yang ketika itu harus pulang karena ingin merawat neneknya yang sedang sakit tua. Setelah lulus dari PM, semua mimpi mereka berenam yang dulu mereka imajinasikan melalui awan-awan di bawah menara telah menjadi nyata. Setelah mereka mengerahkan segala ikhtiar dan berdoa, Tuhan mengirim benua impian ke pelukan masing-masing. Mereka berenam telah  berada di lima Negara yang berbeda. Alif  di Amerika, Raja di Eropa,  sementara Atang di Afrika, Baso berada di Asia, sedangkan Said dan Dulmajid mereka tetap berada di Negara kesatuan Republik Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kearifan Lokal Suku Tana Toraja

UAS Pengantar Teknologi Informasi

Apa itu Modernisasi?